2/3/13

Perasaanku Terungkap di Bandara

Pada suatu hari saat aku duduk di bangku sudut sekolah, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.
    “Hey…. !!! Lagi ngapain?” ucap seseorang itu sambil menepuk pundakku.

    Saat ku menoleh kebelakang ternyata dia sahabatku Veranda. Veranda itu orangnya cantik, ramah, dan pintar. Aku lebih sering memanggilnya Ve.
    “Lagi baca-baca aja” jawabku.
    “Boleh ikut duduk disini ga ?” tanya Ve.
    “Boleh lah, sini-sini” jawabku.
    “Eh... Rizal, aku mau minta pendapat kamu nih, boleh ga ?” tanya ia lagi.
    “Boleh, emang soal apaan ?” tanyaku balik.
    “Gini nih, tadi ada cowok nembak aku, tapi belum sempet aku jawab sih, aku mau minta pendapat dari kamu zal..” ucap Ve.
   
     Aku pun heran, kenapa Ve meminta pendapat dariku, lalu aku pun balik bertanya kepada Ve.
    “Emang siapa cowok itu ?” tanyaku.
    “Evan orangnya..” jawab Ve, menjawab dengan wajah gembira.

     Tanpa pikir panjang aku pun langsung berkata.
    “Terima aja, toh dia orangnya ganteng, pujaan cewek disekolah ini lagi..”
    “Yang bener Zal ?” tanya Ve dengan muka serius.
    “Itu kan pendapat aku, kedepannya terserah kamu, aku cuma ngasih pendapat aja..”
    “Ya udah deh…. Aku terima aja, makasih ya Zal..” ucap Ve, sembari meninggalkan ku.

    Akhirnya Ve pacaran dengan cowok itu. Awalnya aku tidak merasakan apa-apa, tapi setelah beberapa hari Ve berpacaran dengan cowok itu, aku merasa kesepian. Rasanya aku kehilangan sesuatu, biasanya aku selalu bersama Ve, tapi sekarang tidak lagi. Memang Ve itu cewek yang cantik, manis, ramah, pintar, dan selalu menjadi rebutan cowok-cowok di sekolah, tapi ia adalah sahabatku yang baik dan selalu menemaniku.

    Bell istirahat pun berbunyi. Aku pun hendak pergi ke kantin. Ketika aku berjalan ke kantin terlihat Ve sedang bersama dengan cowoknya. Jantungku pun berdetak kencang, timbul rasa cemburu dihatiku, aku pun bingung kenapa aku bisa seperti ini. Kemudian aku duduk di pojok kantin dengan ditemani segelas capuchino. Tidak lama kemudian Ve datang bersama cowoknya.

    “Ah…. Sialan kenapa mereka datang kemari ?” ucapku dalam hati.

    Ve tidak menegurku dia hanya melihat saja, begitu pun dengan ku tidak menegurnya. Kemudian aku pergi dari kantin dengan wajah kusam, mungkin aku telah jatuh cinta dengannya. Setelah itu aku pun tidak pernah bertemu lagi dengan Ve.

*Tiga bulan kemudian...

    Pada suatu malam, ketika aku sedang menonton tv tiba-tiba handphone ku bergetar, saat ku lihat ternyata ada pesan dari Ve.
    “Tumben-tumbenan dia sms..” ucapku dalam hati.

    Saat ku buka isi pesan dari Ve..
    Rizal, besok aku mau cerita nih sama kamu, aku tunggu di taman yang biasa jam 5 sore..

*Ke esokan harinya...

    Sabtu sore ini langit terlihat masih cerah, aku pun bergegas pergi ketaman dan menemui Ve. Sesampainya ditaman aku melihat Ve sedang berdiri dibawah pohon sendirian, dan akupun menemuinya.

    “Hay Ve, udah lama nunggu ya ?” tanya ku.
    “Eh kamu Zal, enggak kok aku juga baru dateng..”  jawabnya dengan wajah sedih.
    “Lah kok mukanya sedih gitu, emangnya mau cerita apaan?” tanyaku dengan wajah heran.
     “Aku sedih Zal.. Cowok aku selingkuh..” Ve menjawab dengan nafas yang tersengat-sengat dan memeluk tubuhku sembari meneteskan air mata.
    “Udah, jangan nangis, jangan pikirkan cowok itu lagi, masih banyak kok cowok yang suka sama kamu. Sekarang mendingan kamu pulang aja biar aku anter kamu ke rumah..” kataku dengan harapan bisa mengambil hatinya.
    “Ya sudah deh, makasih ya Zal..” jawab Ve tersenyum melihatku.
    “Nah gitu dong, kalo seyum kan jadi cantik lagi..” ucapku sambil menghapus sisa air mata di wajahnya.

    Aku pun mengantar Ve kerumahnya, sesampainya di depan rumah Ve.
    “Makasih ya Zal, berkat kamu perasaan aku udah agak enakan, sekali lagi makasih ya Zal..”

    Ia pun langsung masuk sambil tersenyum padaku. Aku pun hanya membalas dengan senyuman dan segera pulang kerumah.

    Setelah kejadian itu hubungan Ve denganku membaik bahkan lebih dari biasanya. Kami pun selalu bersama baik di sekolah maupun dirumah. Disaat semua kesenangan itu terjadi aku mendapat kabar bahwa orangtua ku akan dipindah tugaskan ke luar kota, aku pun terpaksa harus mengikuti orangtua ku. Aku tidak masuk sekolah beberapa hari, dan aku juga tidak memberitahu kepada Ve soal kepindahanku ini. Aku berinisiatif menulis sepucuk surat kepadanya, yang akan ku titipkan kepada satpam rumahku.

****

    Hari ini adalah kepindahanku aku pun menitipkan surat untuk Ve kepada satpam rumahku. Hari ini Ve mencariku di sekolah, dia tidak menemukanku disekolah, dan malam harinya Ve pergi kerumahku.
    “Permisi pak.. Rizalnya ada nggak?” tanya Ve.
    “Den Rizal nya baru aja pergi neng..”
    “Pergi kemana pak? Kok nggak bilang-bilang?”
    “Den Rizal pindah ke luar kota, ke Medan. Orang tuanya dipindah tugas, ini ada surat dari Den Rizal neng..”

    Ve lantas membaca isi surat itu.
Ve meneteskan air mata saat membaca surat ini, dan dengan segera mungkin Ve menyusul Rizal ke Bandara. Sesampainya di Bandara dia terlambat, pesawat yang ditumpangi Rizal sudah lepas landas. Dia menangis dan duduk dibangku yang terletak di ruang tunggu, beberapa saat kemudian seorang anak kecil pun datang dan memberikan kertas pada Ve.
    "Ini dari siapa dek?" tanya Ve.
    "Dari orang yang ada di taman bandara kak.." ucap anak itu sambil lalu.

    Ve membuka kertas itu. 

Pergi ke taman bandara sekarang..

    Ve langsung pergi ketaman bandara dengan tangisannya, kemudian ia terdiam sejenak. Sebuah alunan musik yang romantis, taman yang bertaburan bunga dan lilin yang membentuk sebuah jalan terbentang dihadapan Ve. Dia melihat sebuah tanda panah yang menuju titik tengah taman tersebut. Dia pun perlahan-lahan berjalan sambil menikmati musik tersebut. Setelah tiba ditengah taman, ia tidak menemukan apapun.

    Kemudian terdengar,

    “Veranda, ini aku persembahkan buat kamu. Jangan nangis lagi ya..” Ve pun langsung menoleh kebelakang dan bahagia melihatku.
    “Iya, sekarang aku nggak akan nangis lagi kok. Tapi kalau kamu sampai buat aku kayak gini lagi, aku nggak akan maafin kamu.."

    Aku menjelaskan kepada Ve bahwa orangtua ku tidak jadi pindah karena pemindahannya di batalkan. Aku sangat senang, malam itu juga aku dapat menyatakan perasaanku pada Veranda dan akhirnya dia menerimaku menjadi pacarnya. Dari sini aku mendapat pelajaran jika kita memiliki perasaan janganlah di pendam, ungkapkanlah perasaan itu walaupun pahit rasanya.


~ END ~

Credit to Muhammad Rizal Dinnur