3/8/13

Sehari Bersama TransJakarta



TransJakarta

 Berawal dari kegagalan mendapatkan tiket pertunjukan JKT48, akhirnya hari ini saya memutuskan untuk berkeliling menggunakan TransJakarta dahulu sebelum pulang ke rumah. Perjalanan diawali dari halte Gelora Bung Karno yang terletak berdekatan dengan f(X) Lifestyle Xnter, tempat teater JKT48 berada. Setelah membayar seharga Rp. 3.500,-, saya mendapatkan secarik kertas yang berfungsi sebagai tiket. Hal ini cukup disayangkan, mengapa? Karena disana sebenarnya, sudah terpasang mesin ticketing otomatis, namun saat saya menanyakan hal ini kepada petugas, mereka bilang mesin itu sudah tidak bisa dipakai lagi. Itu berarti, saya tidak bisa memakai kartu JakCard saya. Apabila mesin itu berfungsi, sebenarnya banyak manfaat yang bisa didapat. Salah satunya, saya bisa membeli tiket tanpa melalui antrean di loket tiket. Karena, tinggal menempelkan JakCard di mesin tersebut, mesin tersebut akan langsung mengurangi saldo di JakCard saya. Hemat waktu dan sangat efisien dari sisi lingkungan.

                Setelah membeli tiket, saya memasuki halte dan menunggu bus di tempat yang sudah disediakan. Di monitor, terlihat JET 036 sedang mendekati halte dari arah Blok M. Tetapi, saya urung untuk menaiki bus tersebut karena di belakangnya sudah terlihat DAMRI 5050. Ya, bus gandeng inilah yang saya incar. Bus ini adalah salah satu armada terbaru dari TransJakarta Busway. Bus yang diimpor langsung dari RRC ini bermerek ZhongTong Bus. Bus ini menggendong mesin berkapasitas 12.000 cc dan mempunyai power hingga 300 HP. Ini adalah kedua kalinya BLU mengimpor bus CBU dari RRC. Sebelumnya, BLU pernah mengimpor bus bermerek Huanghai, juga dari RRC. Sebenarnya, keputusan BLU ini ditentang banyak pihak. Karena, ditakutkan apabila melihat prinsip kanibalisme suku cadang yang diterapkan operator bus Huanghai sekarang, bus ZhongTong ini juga dikhawatirkan akan mengalami hal yang sama.
ZhongTong Bus

       Memasuki kabin ZhongTong, saya disambut oleh tiupan AC yang cukup dingin, tetapi tidak sampai membuat saya menggigil kedinginan. Benar-benar masih terasa seperti “fresh from the oven”, seperti banyak orang bilang. Kursi di bus ZhongTong ini relatif lebih empuk dari kursi bus lainnya, walaupun belum bisa menyaingi keempukan kursi bus JET. Untuk penumpang yang berdiri juga cukup nyaman, dengan dilengkapi handgrip yang hilang di unit bus BMP dan TMB. Sayangnya, ruang untuk penumpang berdiri terbilang sempit, terlihat dari aisle yang hanya cukup untuk 1 orang berdiri, tidak bisa untuk 2 orang berdiri berdampingan.

         Tidak terasa, bus sudah memasuki area halte Harmoni Central Busway. Saya berjalan menuju area depan bus, ternyata bus ini memakai teknologi dual zone air conditioning. Hal ini terlihat dari monitor suhu yang menampilkan angka yang berbeda di area depan dan area belakang. Semoga ini bukan peraturan BLU yang menguntungkan para wanita yang berada di area depan.
  
     Setelah sampai di Harmoni Central Busway, saya memutuskan untuk mencoba bus ZhongTong ini sekali lagi. Akhirnya, saya mengantre lagi di arah Blok M. Mungkin terdengar konyol, tapi begitulah adanya. Terlihat DAMRI 5052 sedang memutar kepala. Saya masuk dan kali ini saya sengaja untuk mencoba posisi berdiri. Saya berdiri di aisle namun masih terbilang dekat dengan pintu belakang bus. Ternyata benar, posisi untuk berdiri sangat sempit. Padahal, postur tubuh saya terbilang kecil. Ini yang harus diperhatikan oleh BLU kedepannya. Dan saya juga baru menyadari disini, suara mesin terbilang cukup hening di dalam kabin. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan bus Komodo milik Lorena atau Inobus milik Damri. Bisa jadi, peredam suaranya yang bagus atau memang mesinnya yang hening.
 
      Perjalanan juga lancar sampai di halte Bendungan Hilir. Akhirnya, saya turun untuk melanjutkan perjalanan ke rumah. Setelah menyeberangi jembatan transit yang sepertinya terpanjang di semua koridor, sampailah saya di halte Semanggi. Menunggu sekitar 20 menit, terlihat TMB 03 mendekat dari arah Pluit. Syukurlah, walaupun menunggu lama ternyata bus terlihat kosong. Iseng, saya bertanya ke satgas yang ada di bus, mengapa headway atau jarak antar bus sangat jauh? Ternyata, di Pluit tadi bus ini sempat ditahan oleh pengendali agar tidak jalan dulu. Sebenarnya, itu trik BLU untuk mengurangi pembayaran ke operator. Saat jalur terbilang kondusif dan lancar, bus biasanya dilepas 10 menit sekali. Saat jalur sudah terbilang ramai, barulah bus dilepas setiap 5 menit. Mengapa? Karena apabila jalanan lancar, otomatis waktu tempuh berkurang. Sehingga, bus bisa dengan cepat memutar kepala di halte akhir untuk kembali ke halte awal dan menambah pendapatan operator. Perlu diketahui, operator bus TransJakarta dibayar berdasarkan jarak yang ditempuh per hari. Jadi, makin banyak bus berjalan, makin besar pendapatan operator.

     Singkat kata, akhirnya setelah sekitar 1 jam perjalanan dari Semanggi, bus mulai memasuki halte Taman Mini Garuda. Saya mengakhiri perjalanan hari ini bersama TransJakarta. Sampai jumpa di laporan mengenai TransJakarta lainnya!

With my best personal regard,

Mr. Glass
All right reserved =)