3/24/13

Review TransJakarta Koridor 12, Tj. Priok - Pluit

Oke, hari Sabtu kemaren, tepatnya tgl 16 Feb, gue akhirnya sempet buat nyoba koridor baru TransJakarta yaitu kor 12. Koridor ini melayani Terminal Tj. Priok ke Pluit via Yos Sudarso - Sunter - Kemayoran - Gunung Sahari - Mangga Dua - Kota - Kali Besar - Penjaringan. Diliat dari jalurnya, kayaknya ini koridor paling aneh ya? Dan setelah gue nyoba, gue sampai pada kesimpulan ini jalur paling aneh.


Setelah janjian untuk ketemu di Jembatan Merah dengan temen gue, Listya, akhirnya kami memutuskan untuk mengambil arah ke Pluit dulu. Tidak lama menunggu, datanglah BMP 092. Ini adalah salah satu dari bus Ankai yang beroperasi di kor 12. Lewat Mangga Dua, lalin mulai tersendat. Titik ini harus diwaspadai sebagai titik rawan macet saat peak hour di weekday. Melewati halte Gunung Sahari Mangga Dua, Mangga Dua dan Pangeran Jayakarta, lalin cenderung padat merayap. Memasuki TL Stasiun Kota, kepadatan mulai terlihat. Saat memasuki halte Stasiun Kota, disini bus lumayan mengantri karena tertahan bus ZhongTong dan beberapa bus JET lain dari koridor 1. Ada sekitar 15 menit, BMP 092 ini mengantri untuk menurunkan di halte ini. Disini, terlihat ada extension baru untuk para penumpang yang ingin transit dari kor 12 ke kor 1. Bus melanjutkan perjalanan ke halte Kali Besar Barat. Ini bagian yang terbilang paling ekstrim dari keseluruhan jalur. Jalur sempit dan banyak tikungan yang tajamnya bukan main. IMO, kalo maintenance bus kurang bagus, bukan tidak mungkin gandengan akan banyak bermasalah disini. Mulai halte Kali Besar Barat, Bandengan Pekojan, Penjaringan, sampai Pluit, ini adalah halte satu arah yang hanya dilewati oleh bus arah Pluit. Sebenanya, halte Jembatan Tiga bisa dilewati oleh koridor ini, tapi entah kenapa halte ini dilewatkan begitu saja. :/

Setelah halte Bandengan Pekojan, terlihat BMP 066 baru saja mengalami trouble dengan masih ada penumpang di dalam. Akhirnya, BMP 092 ini keluar jalur untuk mengevakuasi penumpang BMP 066. Kelemahan jalur ini terlihat lagi, jalur yang sempit, hanya terdiri dari 2 jalur sangat menyulitkan proses evakuasi, apalagi kalo terjadi saat peak hour.

Di Pluit, ada kejadian yang agak aneh menurut saya. Penumpang yang naik dari halte sebelum Sta Kota tidak bisa ikut memutar lagi ke arah Priok, tapi harus turun di Pluit dan beli tiket lagi di halte Pluit. Saya termasuk salah satu penumpang yang disuruh turun oleh satgas. Karena memang gue ga tau sistemnya, gue akhirnya turun dan beli tiket lagi. Setelah tanya-tanya sama barrier, akhirnya didapet jawaban kalo mau ke halte Pluit Landmark, Pakin, Gedong Panjang, dan Museum Fatahillah, hanya penumpang yang naik dari halte setelah Sta Kota arah Pluit yang bisa transit, itu pun harus menunjukkan bukti sobekan tiket. Itu berarti di Penjaringan, penumpang hanya bisa naik sampai Pluit, tidak bisa lanjut ke kor 12 kecuali membeli tiket lagi. Pengaturan yang aneh. ._.

Singkat kata, kami sekarang kembali ke arah Priok menggunakan BMP 077. Sepanjang Pluit - Fatahillah, lalin terbilang lancar. Tapi, ya itu tadi, jalanannya sangat sempit dan banyak tikungan tajam yang sepertinya dipaksakan. Beberapa kali gandengan terlihat terlipat dengan sangat ekstrim, sampai hampir membentuk sudut siku-siku. :| Memasuki area Stasiun Kota, jalur mulai tersendat. Butuh sekitar 20 menit untuk mencapai halte Stasiun Kota karena padatnya jalur.

Melewati Pangeran Jayakarta, Mangga Dua, seperti biasa agak tersendat tapi hanya di beberapa titik. Saat bus sedang mengantri di TL dekat WTC Mangga Dua, tiba-tiba bus seperti kehilangan tekanan BBG. Mesin bus tiba-tiba mati. Setelah dicoba restart berkali-kali, akhirnya mesin kembali menyala. Fiuh... -_-"

Kembali menyusuri jalan Gunung Sahari, kondisi lalin juga masih ramai lancar. Dari Jembatan Merah, seperti biasa mengantri cukup lama di TL Angkasa. Masuk Kemayoran, lalin masih lancar. Lepas Kemayoran Landas Pacu Timur, lalin mulai tersendat di TL Jubilee School. Cukup lama, karena kondisi mix-traffic dan antrian terlihat cukup panjang. Setelah lepas TL Jubilee, lalin masih tersendat karena jalur yang sempit dan mix-traffic. Melewati Sunter SMP 140 & Sunter Karya, desain halte terbilang unik. Dibangun di atas sungai, seperti halte Harmoni Central Busway, tapi desainnya lebih modern. Sepanjang jalur ini, dikarenakan jalur yang sempit, kepadatan sangat sering terjadi yang membuat laju bus pun lumayan tertahan.

Sebelum Sunter Boulevard, suara info halte berbunyi memberitahukan bahwa Sunter Boulevard adalah halte terakhir. Sempat membuat kebingungan, sebelum satgas akhirnya mengumumkan bus ini sampai Terminal Tj. Priok. Akhirnya, mendarat dengan selamat di Sunter Kelapa Gading setelah sekitar 3 jam perjalanan Jembatan Merah - Pluit - Sunter Kelapa Gading.

IMO, koridor ini adalah yang paling parah di kategori desain jalur. Headway bisa sangat lama, apalagi saat peak hour. Dengan operasional bus gandeng, beberap bagian terlihat sangat dipaksakan untuk digunakan. Belum lagi, menurut info, bus BMP ini mengisi BBG di Kp. Rambutan (CMIIW). Itu akan sangat merugikan untuk headway bus. Selain itu, kerumitan rute yang sudah pasti akan menbingungkan penumpang awam. Seperti, perihal pengaturan transit di Pluit. Dan banyak halte yang hanya bisa dilalui satu arah saja, arah Pluit maupun arah Tj. Priok.

Oke, sekian review saya kali ini. Mungkin BLU TransJakarta bisa membaca dan segera memperbaiki kekurangan yang ada.

With my best personal regard,

Mr. Glass
All right reserved =)