6/19/13

Sekolah Idaman, Apa Mungkin?

Akhirnya, 12 tahun masa sekolah yang "melelahkan" berhasil gue selesaikan. Oh iya, gue adalah siswa SMK yang baru aja menyelesaikan program wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah kita. Melelahkan? Sangat. Untunglah, gue punya kemampuan diatas rata-rata buat menyelesaikan misi maha-sulit tersebut. #tssaahhh B)

Katanya, ada 8 aspek yang membuat sekolah itu jadi sekolah idaman. Apa saja? Yaitu guru, fasilitas dan lingkungan sekolah, hubungan guru dan orangtua, mata pelajaran, tugas dan pekerjaan rumah, hubungan antar siswa, dan bentuk ujian kelulusan. Mungkin ngga sih ada sekolah yang memenuhi semua kriteria tersebut, atau minimal mendekati? Jawabannya, mungkin kok.


Sekolah SD gue, SD Islam Ar-Rahman hampir memenuhi semua kriteria tersebut. Dimulai dari guru, guru SD gue itu hampir semuanya ramah banget dan telaten kalo ngajarin murid-muridnya. Dan mereka ngga ngebosenin kalo ngajarin kita, selalu ada cara baru setiap bulannya. Mulai dari bikin group quiz, tugas kelompok, sampe outing keliling lingkungan sekolah yang masih bisa dibilang asri untuk ukuran komplek. Beberapa guru juga deket banget sama siswa dan orangtuanya. Contohnya, gue punya guru IPS namanya bu Dewi. Dia itu guru tapi gaul banget! Hobinya nonton bola cuyyyy.... Kerjaan kita kalo pagi pasti nyamperin dia ke ruang guru trus mulai ngobrolin hal-hal seputar sepakbola, khususnya Eropa. Gue pribadi emang bukan penikmat bola, tapi karena lingkungan gue dipenuhi penikmat sepakbola, jadilah gue mulai dikit-dikit ngerti soal begituan. Hehe

Gue juga punya guru namanya bu Diah. Kalo yang ini care banget sama anak-anaknya. Kalo ada yang ngga masuk tapi ngga kasih keterangan apapun ke sekolah pasti akan langsung dihubungi beliau via telepon. Beliau juga sangat akrab dengan para orang tua murid. Yah, Bu Diah adalah salah satu wali kelas yang disegani oleh para orang tua murid karena ketegasannya dan keramahannya kepada semua orang.

Kalo dari mata pelajaran dan bentuk ujian kelulusan, ngga ada yang spesial dari sekolah ini. Karena mereka selalu mengikuti kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah. Tapi, seperti yang gue bilang tadi, para guru yang memodifikasi cara belajar sehingga siswa tidak bosan dengan semua pelajaran tersebut. Untuk urusan tugas dan pekerjaan rumah, gurunya jarang ngasih pekerjaan rumah, karena hampir semua materi bisa disampaikan di sekolah. Selebihnya, kami membuat kelompok belajar sendiri dan we're having fun with that system! :D

Dengan angkatan yang hanya berjumlah 3 kelas atau sekitar 90 siswa saja, membuat hubungan antar-siswa sangat dekat. Hampir semuanya bisa dikenali dengan mudah. Tidak ada siswa yang hanya tahu nama, tapi tidak kenal. Saking eratnya, kami pernah iseng membuat kompetisi sepakbola macam Champions League tapi dalam skala lokal alias sekolah. Dengan modal patungan seadanya, event itu sukses terlaksana dengan didukung semua orang di sekolah, dan semua guru & siswa terlihat sangat menikmati jalannya kompetisi tersebut. Di kompetisi itu, kami diajarkan beberapa soft skill, seperti kerja sama, kekompakan, toleransi, dan lain-lain. Yeay! :D Dan sampai sekarang, hubungan kami masih sangat erat. Via social media, kami mulai berkumpul lagi walaupun hanya di dunia maya. :))

Kalo dari fasilitas, mungkin ini yang menjadi poin minus dari sekolah ini. Memang tidak terlalu lengkap, tapi itu mendorong kreativitas si murid untuk menyiasati kekurangan tadi. ;) Well, kelengkapan fasilitas itu perlu. Tapi, jangan sampai itu menghambat kegiatan belajar juga, kan? Masih banyak sekolah yang lebih parah daripada sekolah kami. Lihatlah ke bawah, maka kalian akan menyadari arti dari semuanya. :))

Oke, itu sekolah impian gue. Bukan sekolah impian sih, karena gue pernah merasakan nikmatnya bersekolah disana. :p By the way, mari sedikit berkhayal. Apa harapan kalian untuk pendidikan Indonesia kedepannya? Kalo gue pribadi, gue berharap ada kurikulum yang melihat pendidikan dari minat dan bakat, bukan hanya dari pendidikan eksakta semata. Jadi, tidak ada lagi anggapan kalo lo gagal di Matematika/B. Indonesia/B. Inggris, hidup lo akan hancur. Semua anak kan punya kemampuan berbeda, kalo dia gagal di pelajaran bisa aja dia punya kemampuan lain, yang sayangnya jarang terekspos di sekolah. Contohnya, musik, seni lukis, seni tari, robotik, atau bahkan olahraga. Sayangnya, beberapa orang masih menganggap sebelah mata semua keahlian itu. Kenapa? Karena dari dulu, mindset masyarakat sudah dipaksa untuk mengagungkan keahlian di bidang pelajaran eksakta. Dan kurikulum kita melanggengkan pola pikir seperti itu. Jadi, akan sangat baik kalo kurikulum kita tidak lagi menganggap keahlian eksakta sebagai segalanya, tapi juga life-skill. Anda pintar di Matematika, tidak akan menjamin hidup Anda akan sukses selamanya. ;)