8/17/13

Top 10: Pekerjaan Para Pembalap Formula One Setelah Pensiun

Mark Webber sudah menyatakan bahwa akan keluar dari Formula One di akhir musim 2013. Tapi, dia sudah siap untuk karir barunya di balapan ketahanan bersama tim Porsche World Endurance Championship.

Bagaimanapun, ada beberapa pembalap F1 lainnya yang memilih beberapa pekerjaan tidak lazim setelah mereka tidak membalap lagi. Berikut adalah beberapa pilihan karir yang tidak biasa yang dipilih oleh beberapa pembalap diakhir karir F1-nya.

Menjual Mobil

Hubungan baik antara Juan Manuel Fangio dan Mercedes-Benz, dimana dia memenangi 2 dari 5 gelar juara dunia bersama Mercedes, berlanjut lama setelah karir membalapnya berakhir.


Fangio membuka sebuah dealer Mercedes-Benz di kampung halamannya, Balcarce. Pada tahun 1974, Fangio ditunjuk untuk menjadi President of Mercedes-Benz Argentina.



Menjual Pesawat

Pengasosiasian 3 kali pemenang GP, Thierry Boutsen dengan mesin-mesin mahal tidak selesai begitu saja saat dia meninggalkan F1 tahun 1993. Pembalap kaya Belgia ini memang terkenal mempunyai dan menjual beberapa pesawat sepanjang karir membalapnya, dan di tahun 1997, dia dan istrinya memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri, bernama Boutsen Aviation.

Perusahaan yang berbasis di Monako ini sudah menjual lebih dari 250 pesawat - mulai dari helikopter sampai corporate jets - dan sudah membukukan total omset lebih dari 1 miliar dolar Amerika atau sekitar 10 triliun rupiah.

Berbekal relasi yang luas di lahan 'basah' seperti paddock F1, tentu saja sangat membantu bisnis Boutsen. Tercatat beberapa pembalap F1 menjadi klien setia dari perusahaan ini, seperti Mika Hakkinen, Keke Rosberg (ayah dari Nico Rosberg), dan Heinz Harald Frentzen.

Selain Thierry Boutsen, ada pula Niki Lauda yang berkecimpung di bisnis aviasi. Bedanya, Lauda memasuki bisnis aviasi dengan memiliki sebuah maskapai penerbangan bernama Lauda Air, yang sekarang sudah berganti nama menjadi myHoliday.

Menjual Pasta

Mantan pembalap Minardi, Paolo Barilla punya jaring pengaman yang sempurna saat karir F1-nya terhambat. Dia ditunjuk untuk menjadi wakil presiden di Barilla Group, salah satu perusahaan pasta terbesar di dunia yang dimiliki oleh keluarganya.

Dan karena perusahaan itu pulalah, Paolo bisa memulai karirnya di F1. Dia melakukan debut untuk Minardi pada tahun 1989, dan ditunjuk sebagai full-time driver di musim selanjutnya.

Tapi setelah gagal di kualifikasi di beberapa balapan di 1990, dan kalah bersinar dibanding teammate-nya, Pierluigi Martini, Barilla akhirnya dipecat sebelum 2 race terakhir musim 1990 dan kembali menjalankan bisnis pasta keluarganya.

Tapi, dia bukan sekedar pay-driver - Barilla pernah menikmati kesuksesan di arena sportscar, dengan kemenangan di Le Mans 24 Hours tahun 1985. Perusahaan Barilla juga nantinya adalah sponsor dari Alessandro Zanardi.

Menjalankan Perusahaan Sat Nav

Juara dunia 3 kali, Nelson Piquet sepertinya punya sentuhan Midas, menikmati kesuksesan yang mirip dengan prestasinya di trek.

Setelah pensiun dari F1 di tahun 1991 (dan selamat dari kecelakaan IndyCar di 1992), kesuksesan terbesar Piquet ada di Autotrac, sebuah perusahaan yang memproduksi sistem sat-nav dan sistem monitoring untuk truk kargo di Brazil. Berdiri pada tahun 1994, perusahaan ini berkembang sangat pesat sampai hari ini dan Piquet adalah salah satu pemegang saham di perusahaan tersebut.


Piquet juga menangani karir balap dari anaknya, Nelson Piquet Junior, yang ada di dalam tim yang ia bentuk sendiri Piquet Sports. Yang terakhir, dia juga tampil dalam sebuah iklan bersama Nigel Mansell di Brazil.

Menyebarkan ajaran Injil

Karir dari seorang Alex Dias Ribeiro di F1 seperti petasan yang lembab. Dia hanya bisa terkualifikasi di setengah dari 20 balapan yang ia ikuti dan tidak pernah mencetak satu poin pun. Ribeiro adalah seorang pria yang sangat religius, dia membalap dengan slogan "Salva Cristo" (Jesus Saves) tercetak di seluruh seragamnya dan kadang-kadang, di mobilnya.

Misi penginjilannya naik satu tingkat setelah karir balapnya berakhir. Sebuah pertemuan dengan kodok albino saat dia sedang menggali sumur (ya, inilah yang sebenarnya terjadi!), membuat Ribeiro memutuskan untuk bergabung dengan Athletes of Christ, organisasi yang berpusat di Brazil yang berdedikasi untuk mempromosikan agama Kristen diantara para atlet.

Mengemudikan Medical Car

Menyebarkan ajaran Tuhan sepertinya tidak cukup memuaskan untuk seorang Ribeiro. Dia akhirnya kembali ke F1 pada tahun 1999, dengan peran penting sebagai pengemudi Medical Car.

Karirnya diatas Medical Car tidak berawal dengan baik; pada safety exercise Sabtu pagi sebelum FP1 dimulai di Monako 2000, Ribeiro menabrakkan Mercedes-Benz C55 AMG Estate-nya ke pembatas di Tabac. Dia tidak menderita luka apapun, namun medical delegate dari FIA Sid Watkins menderita 3 patah tulang rusuk. Merc C55-nya sendiri hancur dan tidak bisa digunakan lagi.

2 tahun kemudian, mobil Medical Car Ribeiro kembali terlibat kecelakaan di Interlagos, Brazil. Tapi, kali ini dia tidak bersalah. Ribeiro sedang memarkir Medical Car-nya di Senna S setelah Enrique Bernoldi mengalami kecelakaan di sesi warm-up sebelum lomba. Tapi, baru saja dia membuka pintu mobilnya, tiba-tiba dari arah belakang datanglah Nick Heidfeld yang kehilangan kontrol dan akhirnya menabrak pintu mobil sampai ringsek dan nyaris terlepas dari engselnya.



Beruntungnya, Ribeiro lolos dari insiden tersebut tanpa cedera. Kalian bisa menebak kepada siapa dia bersyukur setelah insiden ajaib ini.

Menjadi Politisi

Salah satu driver bertalenta yang tidak pernah memenangi gelar juara dunia, Carlos Reutemann, yang sayangnya diingat karena kekalahannya yang memalukan di balapan penentuan di Las Vegas 1981. 2 balapan selanjutnya di musim 1982, tiba-tiba dia memutuskan untuk berhenti dari F1.

Tidak peduli insiden keluarnya yang sedikit memalukan, karir balap Reutemann sudah membuat dia menjadi figur populer di Argentina, dan dia menggunakan reputasinya itu sebagai bekal untuk menempa karir di dunia politik Argentina.

Reutemann juga pernah ditunjuk sebagai gubernur di daerah Santa Fe, provinsi ketiga paling padat di Argentina, untuk durasi jabatan 2 kali di 1991 dan 1999. Sempat ada rumor yang menyatakan dia akan maju sebagai presiden, tapi isu ini tidak pernah terwujud.

Menjadi Petani

Memenangi gelar juara dunia di 1979, Jody Schekter berhenti dari F1 di tahun selanjutnya, saat umurnya baru mencapai 30 tahun.

Tapi, dia tidak membiarkan dirinya menganggur terlalu lama dan mencari kesibukan baru. Bisnis pertamanya adalah sistem weapon training, yang langsung dibeli setelah ia pensiun dari balap dan dijual dengan profit sangat tinggi 12 tahun kemudian.

Dia sekarang menjalani bisnis yang lebih "damai" dan tidak terlalu mengejar keuntungan semata. Schekter membeli dan berinvestasi jutaan poundsterling di Laverstoke Park Farm di daerah selatan Inggris, dimana ia juga menjual produk organiknya yang sudah mendapatkan banyak award.

Bagaimanapun, Schekter tidak melupakan karir awalnya di Formula One. Di peternakan itu, dia mempunyai sebuah garasi yang menyimpan beberapa mobil yang pernah ia pakai selama karirnya di F1, termasuk mobil yang mengantarkan ia menjadi juara dunia, Ferrari 312T4.

Membeli Perusahaan Energy Drink

Sponsorship dari sebuah energy drink sedang menjadi tren di Formula One, jadi sepertinya tidak lama lagi akan ada seorang pembalap yang mengikuti jejak Bertand Gachot dan membuat merek minuman berenergi sendiri.

Orang Luxembourg, yang terkenal karena peristiwa dimana dia menyerang seorang supir taksi pada tahun 1991 yang juga membuka kesempatan seorang Michael Schumacher, menikmati sedikit kesuksesan selama karirnya di F1. Gachot gagal untuk masuk kualifikasi di hampir setengah dari total balapan yang diikutinya, dan hanya pernah mencetak 5 poin sepanjang karirnya.

Setelah 2 tahun membalap di Japanese GT, Gachot mulai fokus dengan urusan bisnisnya. Salah satu dari investasinya adalah Hype, perusahaan pembuat minuman berenergi yang logonya muncul pada mobil Williams di awal 90an. Gachot mendapat deal untuk menjual Hype di Prancis dan karena kesuksesannya, dia memutuskan untuk membeli perusahaannya sekaligus di tahun 2000.

Mengambil alih F1

Meluaskan sedikit arti dari "Formula One driver", maharaja F1 Bernie Ecclestone pernah tampil pada satu kesempatan di GP Monako 1958.

Saat itu, Ecclestone memiliki sepasang mobil Connaught seri B, salah satunya ia pakai di sesi latihan sebelum lomba berlangsung. Ini sepertinya adalah salah satu kelicikan beliau untuk mengumpulkan uang untuk bisa masuk ke dalam lomba, yang nantinya Ecclestone mengaku bahwa ia kalah di salah satu dari kasino di Monako. Dia kembali lagi ke trek di Silverstone, pada tahun yang sama.

Tapi, skill-nya sepertinya lebih berguna sebagai manajer dari tim dan pembalap. Di tahun 1974, dia membentuk Formula One Constructors Association dan akhirnya mengambil alih kontrol dari hak siar F1 yang terkenal sangat menguntungkan itu. Sekarang, dia berada di posisi paling penting di F1, dan meskipun beberapa kejadian terakhir menempatkan dia dalam posisi berbahaya, tetaplah suatu hal yang amat sangat susah membayangkan bagaimana Formula One tanpa figur Bernie Ecclestone.

(Terjemahan bebas dari artikel F1 Fanatic, Top Ten: Jobs for Retired Formula One Driver. Credit to Greg Morland. Published on August 7, 2013 at 12:52 PM)