3/31/15

Forza Ferrari!

Sore ini, dalam DAMRI nomor lambung 266 mengarah ke Kampung Rambutan, gue asyik membaca timeline untuk membaca kabar terakhir dari GP Malaysia, yang terpaksa gue nikmati via live-tweet karena tuntutan pekerjaan.

Sesaat membaca kolom Trending, ada 2 buah kata yang sudah beberapa lama gue lupakan, kembali naik sebagai trending topic. Bukan hanya di Indonesia, tapi dunia. Dua buah kata yang menghilang seiring performa sebuah tim papan atas yang makin menurun, hampir menjadi tim papan tengah.

Forza Ferrari.

To be honest, gue langsung merinding saat itu. Ada apa sebenarnya?



Sebastian Vettel memenangi GP Malaysia 2015, sekaligus menandai kembalinya Kuda Jingkrak ke puncak podium semenjak GP Spanyol 2013. 33 balapan berselang.

"Numero uno is back. Ferrari is back!" - Ferrari team radio to Vettel, a moment after Vettel won the 2015 Malaysian GP.

Sejak GP Brazil 2007, gue tidak pernah sebahagia ini menjadi seorang penggemar dari Ferrari. Setelah sekian lama Mercedes dan Renault menguasai race demi race, akhirnya Kuda Jingkrak kembali menegaskan statusnya sebagai tim papan atas di Formula One.

Medio 2008-2013, performa Kuda Jingkrak terbilang naik-turun, walaupun selalu stabil tanpa pernah keluar dari top 5 klasemen konstruktor. Di 2014, Ferrari berubah menjadi tim papan tengah dengan hanya menempati posisi 4 klasemen, dibawah Mercedes, Red Bull, dan Williams. Alonso dan Raikkonen sendiri hanya menempati posisi 6 dan 12 pada klasemen akhir.

Gue sebagai penggemar tentu saja merasa kehilangan. Ada apa dengan Scuderia Ferrari? Gue hampir saja kehilangan nafsu menonton musim 2015 saat Mercedes kembali menguasai sesi pramusim.

GP Australia mengubah semuanya. Memang, Mercedes masih menguasai posisi 1-2 di balapan ini. Tapi, Sebastian Vettel berhasil merebut posisi 3 dan spotlight dari kedua duo Mercedes. Kimi Raikkonen pun sempat berada di P5, sebelum kesalahan kecil dari kru pitstop memaksanya untuk keluar lebih awal dari balapan.

I was relieved.

Setelah melihat Ferrari di Malaysia, gue tidak hanya lega. Rasa optimis kembali terbit. Melihat tim kesayangan kembali ke puncak adalah salah satu perasaan paling bahagia. Ditambah dengan mendengar kombinasi lagu kebangsaan Jerman dan Italia, yang sudah lama tidak terdengar sejak GP China 2006 dimana terakhir kalinya Michael Schumacher menang bersama Ferrari.


#ForzaFerrari #KeepFightingMichael