7/6/14

Pemilihan Umum

Huft. Akhir-akhir ini di hampir semua social media kalian dengan mudah menemukan apapun yang berbau Pemilu.

Baru kali ini saya merasakan Pemilu dengan antusiasme yang sebesar ini.

Sebenarnya ini pertanda bagus, tapi entah kenapa saya malah merasa muak dengan semua itu.

Tidak ada yang mengontrol kampanye di dunia maya, sehingga banyak orang bisa berbicara seenaknya tanpa filter sama sekali. Pendukung no. 1 menjelekkan kandidat no. 2, begitu pula sebaliknya. (Well, ini berdasarkan pengamatan di timeline saya ya.)

Dan, dengan terpaksa saya membuang beberapa orang dari friend di Facebook dan meng-unfollow beberapa orang dari Twitter. Respek saya untuk mereka hilang sudah.

Bahkan, ada satu guru saya di SMK yang (dulu) sangat saya hormati, tapi sekarang saya kehilangan respek saya terhadap beliau. Bukan karena pilihan kami yang berseberangan, namun penyampaian pendapat dari beliau, saya nilai tidak elegan dan kurang pantas sebagai seorang pendidik.

Dulu, di saat belajar PPKn, kita pasti mengingat prinsip Pemilu yaitu LUBER. LUBER berarti Langsung, Umum, BEbas, dan Rahasia.

Entah kenapa prinsip Rahasia sepertinya sudah hilang saat ini.

Saya tidak bilang itu salah, itu adalah kebebasan berpendapat kok. Semua orang berhak mengeluarkan pendapatnya, bukan?

Tapi, masalah timbul saat banyak orang yang 'asal ngomong'. Tidak punya data dan wawasan yang cukup namun memberikan argumen yang sensitif. Yang terjadi bukanlah diskusi yang sehat, namun perdebatan penuh aura permusuhan.

Menyedihkan melihat banyak orang yang mengeluh kehilangan sosok temannya yang dahulu hanya karena membela salah satu pasangan capres-cawapres.

Saya tidak mau jadi orang seperti itu. Saya sudah menetapkan pilihan saya, tapi lebih baik hanya saya dan Tuhan yang tahu.

Sampai ketemu di TPS tanggal 9 Juli. Jangan golput, apabila Anda menginginkan perubahan.