11/23/13

Never Give Up!

Terinspirasi dari postingan Roy Saputra yang ini, gue juga punya pengalaman yang hampir serupa dengan Roy. Bedanya, peristiwa ini terjadi di Brazil pada 2006 silam. Tepatnya, F1 GP Interlagos tanggal 22 Oktober 2006.

Dini hari itu (ya dini hari, Brazil & Jakarta mempunyai selisih waktu sekitar 12 jam), gue nekad buat begadang demi nonton race yang dipercaya banyak orang adalah race terakhir bagi seorang Michael Schumacher. Schumi sendiri memang sudah mengumumkan keinginannya untuk pensiun akhir musim ini pada balapan di Monza, saat GP Italia berlangsung. Sontak, dunia F1 gempar seketika. Schumi, yang bisa dibilang adalah living legend dari F1, akan meninggalkan dunia F1 dan otomatis era baru F1 akan dimulai. Ditambah, selisih poin antara Alonso dan Schumi saat itu hanya 10 poin. Jadi, semua kemungkinan masih bisa terjadi.

Dengan kekuatan mata yang seadanya, gue berusaha bangun dan menonton race itu. Usaha gue ngga sia-sia, itu adalah salah satu balapan terbaik yang gue tonton. Dari awal lomba sampai finish, para gladiator aspal itu mempertontonkan aksi terbaik mereka.

Ini adalah hasil dari babak kualifikasi yang diselenggarakan pada hari Sabtu.


Sumber: Wikipedia.
Seperti yang terlihat, Alonso memulai balapan dari P4 sedangkan Schumi dari P10. Dengan selisih 10 poin, Alonso sudah hampir pasti menjadi juara dunia, kecuali Schumi bisa finish di P1 sedangkan Alonso finish di P9 keatas sehingga tidak mendapat poin. Melihat performa konsisten Renault sepanjang tahun, Schumi sebenarnya sudah (hampir) menyerah untuk mengejar gelar juara dunia.

Tapi, sepertinya tidak ada kata menyerah didalam kamus seorang Michael Schumacher. Start berjalan dengan mulus, tidak ada insiden yang berarti. Alonso mendapat sedikit hambatan dari Barrichello, tapi dia bisa menahannya dengan mudah. Schumi, yang berada di P10, dengan cepat melesat tapi dia tertahan dibelakang duo BMW Sauber untuk menghindari tabrakan.

Di belakang, duo Williams bertabrakan saat Rosberg menghantam bagian belakang dari Williams FW28 milik Mark Webber. Tidak ada safety car. Damn.

Lalu, Rosberg kehilangan kontrol saat memasuki main straight, dan akhirnya crash. Debris bertebaran di sekitar trek. Safety car keluar dari kandang. Akhirnya. Race ini sepertinya tidak akan membosankan.

Schumacher ada di P6 saat safety car masuk beriringan dengan Fisichella di P5. Setelah restart, Fisi & Schumacher terlibat pertarungan yang cukup sengit. Pada lap 7, Schumacher berakselerasi di main straight untuk meng-overtake Fisi. Fisi tidak mau menyerah begitu saja, di T1 dia memaksa untuk tetap berada di sisi dalam. Schumi ternyata memotong jalur Fisi dengan agresif. Untuk menghindari tabrakan, Fisi akhirnya naik ke atas kerb tetapi usahanya tidak berhasil. Sayap depan dari Renault-nya terlibat kontak dengan ban kiri belakang dari Schumacher.

Akibatnya, mobil Schumi melintir tidak terkendali di T2 karena bannya pecah. Schumi pun harus menjalani hampir seluruh lap 7 dengan ban kempes dan turunnya kecepatan secara signifikan. Seluruh barisan mendahului Schumi dan Schumi pun harus puas duduk di urutan buncit. Setelah kembali ke lintasan, Schumi ada di urutan terbelakang dengan selisih hanya beberapa detik di depan Massa yang sedang memimpin lomba.

Gue sudah lemas dengan kondisi seperti ini. Hopeless, sepertinya. Sepertinya, peluang juara dunia sudah tertutup untuk terakhir kalinya.

Wait up... Di lap 31, Schumi ternyata sudah ada di P12. 15 lap terakhir, Schumi terlihat sudah kembali berada di P6! Schumi kembali bertarung dengan Fisichella di P5 dengan selisih setengah detik! Mereka kembali berduel dengan ketat dengan mempertunjukkan straight-line speed, kali ini Schumi terlihat kesulitan karena mesin Renault milik Fisi ternyata sama perkasanya dengan mesin Ferrari milik Schumacher.

Namun, di lap 62 Fisi melakukan kesalahan dengan terlambat melakukan braking di T1 dan melebar hingga masuk ke rumput. Schumi mengambil kesempatan tersebut untuk masuk ke P5!

Schumi kembali memacu mobilnya untuk mengejar Raikkonen di P4. Ini menarik, karena McLaren yang dikendarai oleh Raikkonen terbilang sangat inferior apabila dibandingkan dengan Ferrari milik Schumi. Di lap 64, Schumacher mencoba menusuk di T10 dan berhasil. Tapi, di T11 Raikkonen kembali merebut P4 karena mendapat jalur yang lebih bersih.

Di 4 lap terakhir, pertarungan makin memanas. Schumi mencoba menyerang di T1 di lap 67, tapi Raikkonen dengan sangat pintar sudah menutup jalur dalam terlebih dahulu. Lap 68, Raikkonen kembali mencoba menutup jalur dalam namun karena mobil Ferrari milik Schumi jauh lebih unggul, Schumi berhasil masuk dengan sisa ruang yang sangat sedikit antara Raikkonen dengan pit-wall. Mereka berdua masuk ke apex di T1 secara bersamaan, racing side-by-side (literally), tapi di T2 akhirnya Raikkonen harus mengalah karena Schumi menekannya ke sisi kotor dari T2.

Kimi Raikkonen vs Michael Schumacher, 2006 edition.
Kimi Raikkonen vs Michael Schumacher, 2012 edition.

Schumi terus mengejar Alonso dan Button, mencetak fastest lap (1:12.1) di lap akhir, namun Schumi tetap harus puas dengan P4 yang ia dapat kali ini. Alonso yang finis di P2 berhasil menjadi juara dunia untuk kedua kalinya.

Yeah, Schumi tidak berhasil untuk merebut gelar juara dunia ke-8 dari Alonso. Tapi, fighting spirit-nya sangat jelas terlihat saat ia harus mengejar ketinggalan dari barisan paling belakang. Schumi berhasil membuat balapan terakhirnya (sebelum dia comeback di 2010) menjadi balapan paling menyenangkan selama musim 2006.

Thanks, Michael!
Kadangkala, Tuhan memang mengharuskan kita tertinggal lebih dahulu agar kita tidak terlena dengan kesuksesan dan tetap menginovasi diri kita sendiri untuk mengejar ketertinggalan kita.

Mungkin sama dengan kondisi gue sekarang. Disaat gue masih sibuk dengan tugas-tugas kuliah, teman gue sudah banyak yang meniti karir mereka di dunia travel agent. Ada yang udah diangkat jadi ticketing staff, dipercaya untuk jadi tour leader, menangani MICE event dari beberapa perusahaan besar di Indonesia, dan banyak lagi.

Tapi gue percaya, gue tidak tertinggal. Gue sedang menjalani upgrading process. Menginovasi diri sendiri. 4 tahun lagi, gue akan setara dengan mereka semua.

NEVER GIVE UP, lads!